Aku dari dulu selalu beranggapan bahwa penegak hukum adalah seseorang yang sangat berjasa dalam memberantas kriminal. Dan kriminal itu adalah sosok yang sangat menjijikkan.
Namun, ternyata aku menemukan bahwa sosok yang aku lihat bisa terbalik. Aku masih menghormati para penegak hukum, tapi sekaligus membenci mereka. Terlebih jika mereka sedang menyelidiki kasus yang dapat memberikan penghasilan tambahan. Perasaan bersalah tidak muncul, karena mereka mendapatkan penghasilan dari orang-orang yang rendah dan dicap kriminal.
Saat mengadakan kunjungan ke puskesmas Jeruk Rawamangun dalam rangka penyuluhan "upaya paksa" dalam kegiatan voluntir di Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat kepada para pemakai atau bekas pemakai narkoba yang sedang rehabilitasi, aku bertemu dengan Bang S, Bang Y, dan yang lain.
Bang S mencurahkan bahwa ia hanya menjadi korban penangkapan dan penyitaan yang tidak sesuai dengan prosedur Upaya Paksa dan pada akhirnya berhasil melarikan diri walaupun uangnya sudah ”disita” polisi tanpa surat-surat yang sah dari Pengadilan Negeri.
Beda lagi dengan Bang Y, yang bekerja sebagai wartawan yang ditangkap dan berhasil keluar disebabkan membayar ”86” kepada polisi yang menangkapnya. Setelah polisi mengetahui Bang Yudi seorang wartawan, polisi meminta secara halus agar kasus penyogokan tersebut tidak disebarluaskan. Dan masih banyak kasus yang belu aku sebutkan.
Pengalaman-pengalaman diatas menyebabkan para pasien mempunyai kebencian yang dalam terhadap polisi dan menyangsikan bahwa ada ”Pengacara-Pengacara” yang mau membela mereka tanpa imbalan. Mereka kesal dan kecewa terhadap penegak hukum yang ada di Indonesia. Mereka butuh bantuan tapi yang mereka dapatkan hanya pukulan-pukulan.
Khusus bagi orang-orang yang mencandu putauw. Saat mereka putus candu putauw, mereka akan merasakan Sakauw. Sakauw ini berbeda-beda tiap orangnya. ada yang menyerang perut, kepala, dll. rasanya seperti dipukul puluhan orang dan sakit sekali. dan pencandu yang ditangkap polisi biasanya tidak diberi pengobatan apapun jika sakauw, padahal bisa dengan diberi obat penahan sakit seperti panadol. Kata Bang Y, itu sangat tidak manusiawi.
Bagi orang yang sedang rehabilitasi, mereka akan diberi obat pengganti putauw, yakni Methadone dan Subutex. Penggunaan Methadone dicampur dengan sirup sedangkan subutex ditaruh di bawah lidah. Mereka dengan rajin datang ke puskesmas untuk mendapatkan pengobatan ini dengan hanya membayar 5000 rupiah. Dan efek obat ini lebih lama daripada putauw dan dengan pengawasan dokter tentunya.
Sudah banyak orang-orang yang melakukan rehabilitasi ini dan kita harus respek karena mereka sudah punya hati yang besar untuk melepaskan benda-benda haram itu.
Sabtu, 02 Januari 2010
Penegak Keadilan tidak berKeadilan?
Kamis, 03 Desember 2009
Si Jurnalistik "Singa Ompong"
Hai semua...
Setelah seminggu meneliti dan mencari inspirasi, aku mendapat bahan yang cukup untuk menulis dengan tema JURNALISTIK
Jurnalistik mempunyai peran yang penting bagi masyarakat, terutama untuk mendapatkan informasi. Informasi bisa dibagi 2 yaitu positif dan negatif. Dan juga bisa secara halus mengajak orang untuk menuju ka arah positif maupun negatif.
Jurnalistik juga merupakan suatu hak asasi untuk dapat berekspresi dan beropini.
Menjadi seorang jurnalis tidak kalah laris dengan lawyer yang saat ini kuota pelayanan jasanya meningkat seiring dengan ada suatu kasus besar yang menyeret beberapa pejabat. Jurnalis pun mendapat makanannya yaitu berita dan mengulasnya.
Namun AKU disini menyatakan lebih menghormati seorang lawyer yang membela koruptor bilyunan rupiah daripada jurnalis yang menginformasikan masyarakat suatu hal yang tidak pasti dan bisa disebut provokator. Setidaknya kita tahu lawyer sudah memilih jalannya, baik ataupun buruk. Sedangkan Provokator adalah orang yang mengadu domba dan cuci tangan setelahnya.
Dari gosip, bencana hingga kasus korupsi yang menyeret pemimpin pemerintahan Indonesia merupakan tayangan yang dinantikan oleh konsumen informasi di Indonesia.
Sebagai rakyat biasa, aku merasa tergerak menulis ini karena tidak mau saudara-saudaraku dicuci otak oleh orang-orang yang hanya menginginkan rating semata.
Selama seminggu kemarin, aku melakukan penelitian mengenai jurnalistik, aku bahkan sempat bertanya kepada salah satu jurnalis dari stasiun radio ternama di Indonesia. Ia mengatakan bahwa 85 % jurnalis tidak membaca kode etik.
Aku akan mengambil contoh kasus KPK vs. Kapolri. Stasiun TV yang bernafaskan politik mulai gencar mencari berita, debat dengan politikus, mencari fakta, dsb. Hal ini sangat positif. Namun bagaimana jika, stasiun TV tersebut secara tidak langsung memihak antara 2 pihak yang bersengketa. Mereka dengan halus mengajak audience untuk pro salah satu pihak, dimana dalam pengadilan belum terbukti mana yang bersalah. Hal ini dapat membuat kericuhan dalam masyarakat. Mosi tidak percaya oleh masyarakat. Oleh karena itu jurnalistik, terutama pada media TV sangatlah menentukan sikap-sikap masyarakat.
Ada nggak sih pengawas para jurnalis tersebut? ADA!!
Ada yang disebut dengan KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) dan juga Dewan Kehormatan PWI (Pengawas Wartawan Indonesia).
KPI pada dasarnya membahas mengenai apa saja tayangan yang dapat ditayangkan di layar kaca, radio, dll. PWI memegang teguh hak-hak beropini pada wartawan (jurnalis) dan sebagainya, namun juga berperan penting dalam pengawasan tindakan jurnalis.
Bagaimana dengan gosip-gosip artis selebriti yang beredar? Bagaimana dengan hasutan halus tidak langsung?
Dalam kode etik jurnalistik, hal itu dilarang!!!
1. Dalam salah satu pasal dalam kode etik tersebut dikatakan bahwa wartawan menjunjung tinggi kehidupan pribadi, oleh karena itu tidak boleh merugikan nama baik, kecuali untuk kepentingan umum. Okeh, Anang sama KD cerai, memangnya kepentingan umum ya??
2. Dalam salah satu pasal, jurnalis atau wartawan tidak boleh menghasut maupun memihak. Kenapa sampai sekarang masih terasa??
Bagaimana dengan KPI dan Dewan Kehormatan PWI?
Aku sebenarnya masih bingung dengan adanya 2 lembaga tersebut. Seperti halusinasi saja, tidak terlihat.
Mungkin kita masih bisa merasakan sedikit dari KPI yang melarang tayangan dengan judul 4 MATA, karena pembawa acaranya memakan kodok. namun, stasuin TV itu masih memakai pembawa acara yang sama dengan judul "Bukan 4 Mata". dan KPI tidak melakukan apa-apa setelahnya.
PWI? Tidak pernah terdengar, setelah seminggu meneliti, aku baru tahu bahwa ternyata ada lembaga Dewan Kehormatan PWI.
Kode Jurnalis sudah terikat dengan wartawan-wartawan, namun sanksi-sanksi yang diberikan oleh PWI masih tidak jelas. Dan Stasiun-Stasiun TV menjadi besar kepala, membuka aib orang tanpa memperhatikan kode etik.
Narasumberku berkata, Lembaga Pengawas Jurnalitik di Indonesia itu seperti Singa Ompong. Seseorang yang berkuasa tapi tidak bisa memberikan sanksi. Bagaikan singa ompong.
Penilaian terakhir jatuh pada masyarakat yang menjadi audience. jika mereka suka dengan berita tersebut, mereka akan menaikkan rating, jika tidak maka akan menurunkan rating. Namun tidak akan merubah tindakan para jurnalis yang melanggar kode etik.
Sampai kapan negara kita akan terprovokasi oleh orang-orang seperti itu?
Maka, jangan langsung termakan dengan berita-berita terbaru, karena nggak semua yang lo lihat dan dengar itu bener
Saran : Lain kali kalau ada pembukaan lowongan menjadi wartawan, tes dulu kode etiknya, HARUS HAFAL!
Jumat, 27 November 2009
Mendiskriminasi tanpa tujuan yang logis
Kita dibesarkan dengan cara yang berbeda-beda, dan dengan cara itu kita tumbuh dengan suatu kebiasaan.
Bahkan bisa dibilang agama adalah sebuah kebiasaan, sebuah turunan dari orang tua.
Dan kita juga bisa bilang suatu tindakan diskriminasi juga salah satu dari kebiasaan kita.
Minggu ini tema kita adalah tentang diskriminasi dalam bentuk apapun. Ras, Agama, Orientasi seks, Latar Belakang Pendidikan, dan sebagainya.
Sebenarnya kalau kita pikir-pikir lagi, tujuan kita mendiskriminasi orang itu apa sih? Nambahin dosa kali ya!
Diskriminasi sudah terjadi sejak zaman terdahulu jauh sebelum peristiwa apertheid di Afrika.
Diskriminasi warna kulit juga terjadi di Amerika pada zaman dahulu. Sekarang lambat laun hal itu mulai mereda dan hampir tidak ada sama sekali. Namun berbeda dari yang gue dengar dari kakak gue,
"Bullshit, masih banyak terjadi di Amerika sampai sekarang". Gue percaya, dia sudah 3 tahun sekolah di Amerika.
Oke, jangan jauh-jauh di Indonesia saja masih banyak terjadi diskriminasi. Terutama pada ras, orientasi seks, orang miskin, dan juga gender.
Gue akan jujur disini, gue adalah seorang anak keturunan Jawa dan Cina. Gue bangga jadi orang Jawa dan gue juga bangga menjadi orang Cina. Boleh kan gue chauvinis? Siapa sih yang gue suka kaumnya dipuji? Dan boleh kan gue marah kalau kaum gue dijelek-jelekin?
Yang pasti setiap kaum mempunyai keunggulannya masing-masing, entah dari kegiatan berdagangnya, dari tutur bicaranya yang sopan, dsb.
Terus kenapa kita nggak menyatukan perbedaan itu, katanya Bhineka Tunggal Ika? Jadinya kita bisa sepenuhnya menjadi manusia Indonesia. Bangga terhadap kaumnya? Boleh! Tapi kita juga harus bangga terhadap kaum lain yang telah menjadi saudara kita! Please donk! Budaya sih budaya, tapi klo nggak sesuai dengan zaman modern, ke laut aja deh! Udah tahu negatif, terus diikutin, otaknya beku kali ya.
Diskriminasi terhadap orang-orang yang mempunyai orientasi seks juga sangat banyak di Indonesia, hal ini biasanya dipengaruhi agama yang mayoritas di Indonesia yang melarang adanya keabnormalan seks. Oke, mari kita telaah!
Gue suka banget sama Adam Lambert (Juara 2 American Idol season 8), dan seorang musisi jenius. Gue suka ngeliat video-videonya di youtube, tapi comment yang ada cuma hanya tentang keabnormalan dia. Memangnya penting? Toh, dia punya kualitas suara yang oke. Memangnya pernah dalam agama kita harus menjauhi mereka? Tidak! Bahkan kita harus bergaul dengan mereka, untuk apa? Yang pasti ada untungnya buat kita, mempunyai kenalan yang tak terbatas, memangnya orientasi seks menular?? Please deh, jangan kolot!
Okeh, di atas itu cuma beberapa contoh aja, so, please klo ingin tahu lebih banyak buka UU No. 40 tahun 2008, ternyata mendiskriminasi orang ada hukumannya, see you!
PS: Not trying to offend anybody
Jumat, 20 November 2009
3 Isu Paling penting di Indonesia, melebihi isu-isu binatang merayap dan binatang buas!
Hi there
Sekarang lagi hot-hotnya nih adu binatang di Indonesia, tapi sebenernya ada beberapa masalah penting, namun simple..., lebih simple dari adu binatang (haram tahu)
I. Isu Terpenting -- Indvidualistis yang keterlaluan (siapa bilang Amerika individualistis? Kita juaranya!)
Orang asing selalu berkomentar "Indonesian people are very welcome, and warm"??? Really
Iya, kita "warm"nya cuma sama orang asing, pernah liat nggak ada sesama Indonesia ramah tamah, JARANG!! Mentang-mentang orang asing, beh!! ramah banget! sama saudara sendiri, galaknya luar biasa. Kesenggol dikit "NG****T LO", halah!
Lanjut, Seorang ibu-ibu tua atau wanita hamil atau wanita lemah, kecapean, di bus atau di kereta, nggak ada yang ngalah, mau laki-laki ataupun wanita sehat, beh!! Mungkin laki-laki yang baca ini kesal, bukannya sekarang ada emansipasi, bukannya cewe ingin diperlakukan seperti laki-laki. GUE SETUJU! TAPI, manusia kan diciptakan bervariasi (IDENYA LAMARCK), ada laki-laki kuat, bahkan ada juga yang selemah wanita, ada juga wanita yang sekuat samson! Jadi mengapa kita nggak coba mengalah sama orang lain yang mempunyai keterbatasan fisik.
KLO ISU NO. I ini dibenahi, nggak ada lagi tuh adu binatang untuk mendapat keuntungan pribadi semata
II. Isu terpenting No. 2 -- ADUHAI ORANG INDONESIA NGGAK BERIMAN SEBAGIAN!! ????
Kebersihan adalah sebagian dari iman! Gue juga kurang beriman!! Mobil gue penuh dengan sampah?? LHO??
Yaiyalah!! Gue nggak biasa buang sampah sembarangan, tiba-tiba di tengah jalan, buka jendela, trus buang!! mendingan mobil gue bersampah daripada lingkungan gue yang bersampah...
Orang-orang alim, kyai, ulama, ustad, ustadjah, guru agama selalu bilang kalau kebersihan adalah sebagian dari iman. YAKIN BANGET YA! tapi tiba-tiba, SWING! tisu dibuang begitu aja, padahal di deketnya ada tong sampah, oke, masjid bersih, lingkungannya bersih?? Tapi apakah mau menjaga diri dari membuang sampah di lingkungan orang lain? MEragukan!!
Pantes aja Fauzi Bowo bilang "Banjir itu Salah orang Jakarta sendiri, buang sampah sembarangan!"
Alangkah tidak kagetnya gue ngelihat kerukan tanah kanal penuh dengan sampah, gue cuma maklum.
MAKLUM?? YAKIN??
III. ROKOK -- MASALAH BUKAN PADA ROKOK TAPI PADA PEROKOK
Gue cuma mau ngingetin aja para perokok, bukan masalah buat gue orang ngerokok pa nggak, TAPI LIAT SIKON DONK! Ada nggak orang yang nutup idung pas lo ngerokok!!
Lo sebelum ngerokok, minta izin dulu "Gue nggak papa kan ngerokok", gue mengangguk, bukan berarti gue seneng sama bau rokok, itu karena gue NGGAK ENAK!! PLEASE SMOKERS NOTED : NGGAK ENAK NGELARANG!!
Pas baru kena sakit jantung, dan sekitarnya, baru berhenti trus bilang, ternyata deket-deket orang ngerokok nggak enak ya, bau (pengalaman Bokap! untung dia sudah berhenti!)
THANKS, menurut gue, Indonesia bisa maju dengan ketiga isu itu dibenahi
Give comments, please??
